Happiness In An Unfair World. Chapter 24 - After Holyday

Diposting oleh Label: di
‘Jangan lari dari kenyataan,’
‘Akuilah siapa dirimu,’
‘Kehidupan normal sudah tidak bisa lagi kau dapatkan,’
‘Karena kau telah terbiasa melihat orang lain tersiksa bahkan terbunuh,’
“apa apaan ini?” gumam Rikuto. Beberapa lama ini, Rikuto terus menerima e-mail dari orang yang
tidak menunjukkan identitasnya. Email itu berisi paksaan agar Rikuto tidak berusaha mengubah
fakta. Awalnya, Rikuto hanyta mengganggapnya sebagai Spam. Tapi, e-mail itu terus menerus datang
padanya. Setiap hari, Walau E-mail pengirim sudah di blokir. Tapi, dia terus mengirim E-mail dengan
alamat yang berbeda.
Saat ini, Liburan Musim panas akan segera berakhir. Tepatnya, senin ini Para siswa mulai masuk
kembali ke sekolah untuk mulai belajar dan melakukan kegiatan seperti biasa.
‘Orang yang berusaha mengubah fakta adalah pengecut,’
Bahkan hari ini, Pesan itu datang pada Rikuto lagi. Di jam yang sama seperti yang hari sebelumnya
terjadi.
“Jika begini terus. Akhir pekanku akan terganggu,” Pikir Rikuto sambil mematikan notifikasi untuk Email dan membiarkan dirinya bisa di hubungi melalui telepon. Setelah mengubah pengaturan
Ponselnya. Dia merubuhkan tubuhnya pada Tempat tidurnya. Tidak ada yang bisa di kerjakan.
Karena Seluruh pekerjaan dari Jun telah di selesaikan dengan baik. Dan Jun mengatakan bahwa tidak
ada tugas lagi hingga awal Musim semi nanti.
“Aku memang sangat mencintai ketenangan dan santai. Tapi, Jika aku tidak melakukan apapun.
Rasanya seperti ada yang kurang,”
Rikuto menyalakan televisi di Rumahnya dan mulai mengikuti sebuah Acara Televisi sambil
menyalakan Laptopnya.
---
Di sisi lain, Akari sedang berada di kereta dan dalam perjalanan menuju suatu tempat. Dengan
pakaian yang formal karena memang dia baru saja kembali dari kantor pusat untuk melakukan
pekerjaannya sebagai Informan sekaligus Jurnalis.
‘Rikuto, Tolong siapkan dokumen No 44,Di bagian Informasi Instansi’
Merasa tidak punya waktu banyak. Akari mengirim E-mail pada Rikuto agar dia mempersiapkan apa
yang Akari butuhkan untuk mempersingkat waktu.
“kenapa tidak ada respon? Aku yakin dia tidak punya kerjaan sekarang” Gumam Akari
Biasanya. Jika Pesan yang di kirim Akari terbalas dengan cepat. Itu menandakan Rikuto sedang tidak
memiliki hal yang di kerjakannya. Tapi, Dia tidak membalasnya. Padahal waktu sudah berlalu 15
menit dari Akari mengirim pesan padanya.
20 menit kemudian, Akari telah sampai di stasiun tokyo dan hendak menuju Rumah Rikuto dengan
cepat. Setelah berjalan beberapa meter. Dia memberhentikan taksi dan meminta di antar menuju
kediaman Kuroyama
‘Kuroyama-san Bisa tolong katakan pada Rikuto untuk membalas e-mailku? Itu sangat penting’
“Bahkan dia juga tidak membalas!?” Ucap Akari kesal.
*Ting Tong Ting Tong Ting Tong
Setelah sampai di Depan Rumah Tujuannya. Akari dengan cepat membayar taksi dan menekan bel
rumah Rikuto dengan cepat
“Berisik,” Ucap Rikuto yang keluar dari rumahnya beberapa saat kemudian
“Mana?”
Tanpa di persilahkan. Bahkan tanpa menunggu Pagar dibukakan untuknya. Akari membuka sendiri
pagarnya dan Masuk kedalam sambil mengulurkan tangannya
“Apaan Sih? Sepertinya kau kurang sopan hari ini,”
“Hah? Aku minta dokumennya. 1 jam lagi pertemuan akan di adakan,” Ujar Akari kesal
“Dokumen apa? Kenapa kau tidak bilang padaku?”
“Tidak bilang apa?? Aku sudah mengirim e-mail setengah jam sebelumnya,”
Setelah mendengar ucapan Akari, Rikuto terkejut dan masuk kedalam Rumahnya dengan cepat.
Berpikir perkataannya sudah di mengerti, Akari mengeluarkan sebotol air mineral dari Tasnya dan
meminumnya.
“Rikuto kenapa lama!?” tanya Akari dari luar. Karena tidak mendengar balasan dari yang ada di
rumah. Dia melangkah masuk kedalam Rumah Rikuto.
“Belum di cetak!??”
Akari sangat terkejut saat masuk ke dalam, Rikuto terlihat sangat sibuk dengan keperluan
mencetaknya dengan keadaan Televisi yang masih menayangkan tayangannya.
“Hoi, Sejak kapan kau nonton Anime?” tanya Akari sambil mengangkat sebelah alisnya.
“Berisik, Dari tadi aku tidak ada kerjaan. Kebetulan acara di televisi tidak ada yang menarik kecuali
itu,” Jawab Rikuto sambil mengetik
“Jangan bilang kau ke asikan nonton dan tidak membaca pesan dariku?”
“Kalau itu, Aku mematikan notifikasi pesan di ponselku. Lebih baik jika ada yang mendadak telpon
saja aku,” Jawab Rikuto cepat
“huh. Apa yang membuatmu mematikan notifikasi itu?” tanya Akari sambil mengambil permen
coklat yang tergeletak di samping Rikuto dan memakannya.
“Aku hanya merasa terganggu olehnya,” Jawab Rikuto tanpa memperdulikan apa yang Akari lakukan
“Aku yakin kau tidak menerima banyak pesan dari orang. Karena, kau tidak memberikan e-mail pada
orang orang kecuali yang terlibat denganmu saja kan?”
“Itu memang benar,” Ucap Rikuto
“Tapi, “
“Ini adalah sesuatu yang tidak bisa ku ceritakan padamu,” Tambah Rikuto. Terdengar suara mesin
cetak Mulai mencetak dokumen yang di minta Akari.
“Kau akan menceritakannya pada Misaki kan?” tanya Akari. Mendengarnya. Rikuto terdiamseakan
memikirkan sesuatu
“Aku tidak mengerti apa tujuanmu bertanya. Tapi, aku juga akan melakukan hal yang sama
padanya,”
“Sedikit terbuka padanya bukan berarti memberitahukan semua hal tentangku padanya. Masih ada
hal yang tidak boleh seorang pun tahu,”
Mendadak. Rikuto bersikap dingin. Wajahnya yang tidak mengeluarkan ekspresi membuat Akari
kesulitan untuk membaca apa yang sedang dia pikirkan. Padahal beberapa waktu lalu, dia terlihat
seperti biasa. Dalam kondisi yang tidak bisa di katakan buruk maupun baik. Tapi, saat ini
perkataannya berubah menjadi dingin seolah ingin Akari menghetikan membicarakan tentang hal
itu.
“Ada apa denganmu?” tanya Akari. Namun, Bukan di jawab, Rikuto hanya diam dan melakukan
pekerjaannya untuk mengurus percetakan Dokumen yang di minta.
“Sudah selesai,” Ucap Rikuto sambil memberikan dokumen yang sudah tersusun pada Akari.
“Ada yang aneh denganmu. Mendadak menonaktifkan notifikasi pesan. Dan bertingkah aneh
lainnya,” Gumam Akari sambil mengambil dokumennya dari Rikuto.
“terserah. Pergi lah, Aku sedang tidak ingin di ganggu,”
“Tanpa kau minta aku juga akan pergi,” Ucap Akari kesal sambil berjalan keluar Rumah Rikuto
dengan cepat dan membanting pintu Rumahnya.
“Sialan, Jika pintunya rusak. Itu bukan salahku ya?” gumam Rikuto sambil membaringkan badannya
dan melanjutkan kegiatan menonton televisi. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Waktu
menuju masuk sekolah semakin dekat, setelah melewati hari minggu. Rikuto akan kembali menjalani
pelajaran di sekolah seperti biasanya.
----
“Takuya-sama! Apa kau tidak lelah mengirim pesan Terror itu?” tanya seorang pelayan pada Takuya
“Lelah atau tidak itu bukan hal yang harus kau pikirkan,” Jawab Takuya sambil mengetik pada
Ponselnya
“Aku ingin dia tidak terus melarikan diri dan menerima kenyataan bahwa dia itu adalah no.4 yang di
kenal itu, Dan aku akan mengakhiri kisah no.4 dan memulai kisah baru dengan nama Penyayat,”
Tambah Takuya sambil tersenyum
“Jangan terlalu memaksakan diri anda Tuan,”
“Hm, Kenji. Apa kau sudah mendapat informasi tentang orang penting baginya?” tanya Takuya
“Maafkan aku. Takuya-sama, Target jarang berada di luar Rumah. Jadi, aku tidak bisa mengetahuinya
dengan mudah,” Jawab Kenji. Pelayan Takuya sambil menunduk
“Angkat kepalamu, Berhubung hari senin sekolah sudah memulai kembali kegiatan setelah liburan.
Aku ingin Kau mencari informasi sebanyak mungkin. Karena, Minggu pertama sekolah, Aku akan
membuatnya menunjukkan jati dirinya,” Ujar Takuya sambil mematikan layar ponselnya. Sampai
saat ini, dia sudah mengirim 150 pesan yang berisi agar penerima tidak terus melarikan diri dan
menerima kenyataan yang ada.
“Baik. Takuya-sama,” Balas Kenji tenang. Setelah mendapat perintah untuk pergi. Dia meninggalkan
ruangan tuannya untuk melakukan pekerjaan yang ada. Setelah keluarnya kenji dari ruangannya.
Takuya mengeluarkan sesuatu dari lacinya dan tersenyum.
“Ini adalah awal semuanya di mulai. Karena aku adalah anak dari Yakuza dan peraturan keluarga
yang melarangku melukai orang yang bukan merupakan target, Orang orang di sekolah terus
menjahiliku. Dan mereka merasa aman karena keluarga tidak akan melukai mereka. Hingga akhirnya
aku memilih untuk menentang aturan keluarga dan melawan mereka. Di saat itulah aku pertama kali
membunuh seseorang dengan bermodal sebuah cutter dan 6 isi pisaunya, walau yang tercatat hanyalah membuatnya buta,” gumam Takuya sambil melihat foto kelulusan Smpnya. Dengan rambut yang di cat pirang di sebagiannya.
“Aku pasti akan membuatmu menerima kenyataan dan mengalahkanmu di saat itu juga,” Ucap
Takuya sambil meremas foto tersebut dan melemparnya ke tempat sampah
---
+++Rikuto’s POV+++
Pada Akhrinya, Liburan musim panas berakhir tanpa ada kesan berarti. Kecuali ancaman dari
kakakku yang terlampau bodoh serta Pesan spam dari orang yang tidak ku kenal. Pagi ini, Sekolah di
mulai kembali. Seperti biasa, pukul 6.45 aku sudah siap untuk pergi ke sekolah. Akan tetapi, saat
keluar rumah. Dinginnya udara sangat terasa menusuk tulang. Musim gugur telah tiba. Pada
akhirnya aku kembali masuk kedalam rumah dan mencari Mantel yang di berikan Akari.
Setelah mencari Mantel yang kebetulan ada di tumpukan baju yang belum di rapihkan. Aku baru bisa
berangkat sekolah jam 7. Walau itu tidak akan menyebabkanku terlambat.
“Aku berangkat,”
Pagi ini, Para tetangga sudah mulai menjalani aktifitas mereka. Sepertinya penyebabku tidak terlalu
sering bertemu dengan mereka saat musim semi adalah Waktuku pergi ke sekolah tidak sesuai
dengan waktu mereka memulai aktifitasnya
“Selamat Pagi,”
Aku menyapa seorang paman yang berada di sebelah rumah. Sepertinya dia adalah pegawai
pemerintah. Karena aku pernah melihat seragam itu saat sedang melewati kantor pemerintah
bersama Akari.
“Selamat Pagi, Kau adalah orang yang tinggal di sebelah? Anak angkat Kuroyama-san?” tanya Orang
itu. sepertinya kabar tersebut sudah cukup tersebar
“Benar, Maaf sebelumnya aku tidak sempat untuk menyapa Karena aku tidak pernah melihatmu ada
di sini sebelumnya,” Jawabku dengan sopan
“Tidak masalah. Aku memang selalu mengambil Lembur saat musim semi. Karena udaranya yang
sedikit bersahabat jadi aku juga sedikit bersemangat untuk bekerja,”
“Begitu ya? oh, Maaf aku menggaggu waktumu untuk berangkat bekerja,”
“Tidak masalah. Aku belum akan berangkat sekarang,” Balas paman itu
“Oh ya. nak, Aku belum tahu namamu,”
“Aku Kuroyama Rikuto. mohon kerja samanya sebagai tetangga mulai hari ini,” Aku
memperkenalkan diriku dengan sopan
“Aku adalah Kyoichi suda. Kalau begitu selamat berjalan ke sekolahmu,”
“Permisi. Kyoichi-san,”
Setelah berbicara beberapa patah kata dengan tetanggaku. Aku berjalan ke sekolah dengan santai,
Karena tidak perlu menghawatirkan keterlambatan. Setelah aku memutuskan untuk menghilangkan
emosi dan menutup hati. Saat berbicara dengan orang yang lebih tua. Jika aku tidak menghendaki
apapun. Otomatis aku akan bicara dengan sangat sopan padanya. Hal itu terjadi juga pada anak
kecil. Walaupun Itu hanya sekedar sandiwara. Setidaknya aku harus berbaik hati pada tetanggaku
karena bila tidak ada masalah aku akan tinggal di sini se sedikitnya Sampai 3 tahun ke depan.
“Selamat pagi Riku,”
“pagi, Takaki,”
Sepertinya Takaki memang tipe orang yang selalu datang pagi? Aku harap kerja kerasnya akan selalu
di hargai oleh orang tuanya.
“lama tidak berjumpa ya,”
“Apa yang kau lakukan selama liburan Musim panas?” tanya Takaki.
“Tidak ada, Aku hanya diam di rumah,” Jawabku tenang
“Tapi kau memenagkan turnamen Aikido kan?” tanya Takaki tiba tiba. Kenapa dia tahu?
“Kau tahu dari mana?”
“Aku menonton,” Jawab Takaki cepat.
“Jadi begitu,”
“Kau sendiri. Apa yang kau lakukan selama Liburan, Takaki?” tanyaku
“Ikut kelas Musim panas di bimbingan belajar,”
“Kau sangat bekerja keras ya?” gumamku
“Begitulah,”
Aku selalu kagum dengan orang yang bekerja keras walau tidak pernah di hargai. Tapi, dia malah
melakukan yang lebih baik lagi. Akan tetapi, Aku tidak bisa menjadi seperti itu. Karena, Bekerja keras dan melakukan sesuatu sebaik mungkin itu melelahkan. Sangat melelahkan. Terlebih, Jika itu tidak di hargai dan malah di lecehkan.
“Takaki, Jika kerja kerasmu tidak di hargai. Baik oleh orang tua atau oleh orang lain yang penting
bagimu, Apa yang akan kau lakukan?” Tanpa sadar, Aku melayangkan pertanyaan itu pada Takaki.
“Aku akan tetap seperti ini. karena inilah diriku. Tentunya aku akan membuat diriku lebih bekerja
keras dan di akui di matanya,” Mendengar jawaban Takaki, Aku terdiam. Dia sungguh hebat. Tapi,
tidak ada alasan bagiku untuk mengikutinya. Karena aku tidak punya motivasi untuk bekerja keras.
“Selamat pagi. Takaki, Rikuto,”
Takeshi. Salah satu dari rekan yang berada di sekitar mejaku menyapaku. Melihat nilainya saat ujian
Akhir. Aku tidak menyangka dia akan berangkat pagi.
“Pagi, Takeshi. Kau juga suka berangkat pagi ya?” tanyaku
“Rikuto. Biarku jelaskan, Semester 2 adalah saat merubah diri. Aku datang pagi agar bisa mendapat
perhatian dari Ootonashi-san kalau aku adalah siswa yang baik,”
Jadi karena Cewek ya? Memang sih, dia sudah bilang sejak aku sedikit dekat dengannya bahwa dia
suka pada Ootonashi-san
“Riku, Sejak SMP dia selalu datang pagi di awal tahun dengan alasan yang sama. Akan tetapi,
hasilnya seperti yang kau lihat di semester lalu,” ucap Takaki menanggapi dengan menahan tawanya
“Takaki, Jangan hancurkan imageku depan dia. Jika dia bilang kalau aku akan berubah menjadi siswa
yang baik. Aku yakin Ootonashi-san akan dekat denganku,”
“Kalian satu SMP?” tanyaku
“Begitulah. Aku. Takeshi dan Ootonashi-san sekolah di SMP yang sama. Dan sejak musim gugur kelas 1 SMP__”
“Hentikan Takaki, Kau sendiri juga suka dengan___”
“Cuacanya cerah ya?”
Merasa kehadiranku akan mengganggu. Aku berhenti berbicara dan hanya memperhatikan mereka.
Serta memberi Reaksi seperti yang sedang mereka bicarakan. Seakan aku menghilangkan
keberadaanku secara perlahan.
Saat mereka berdua sedang terlarut dalam obrolannya. Aku melihat seseorang yang sangat ku kenal
saat sedang menoleh ke belakang. Dia menundukkan wajahnya. Walau biasanya dia selalu
mengangkat wajahnya dengan yakin.
“Selamat pagi, Kuroyama-san,”
“Pagi..”
Sebelum aku bisa membalas secara penuh, Dia, Misaki telah pergi mendahuluiku. Walau biasanya
dia akan memulai paginya dengan ratusan pertanyaan padaku. Terlebih, caranya memanggilku
seperti saat dia baru mengenalku.
“Misaki!!. Selamat pagi,”
Tiba tiba, Seorang Lelaki mendahuluiku dan berjalan di sebelah Misaki. Dia adalah Kiromaru Jirou-senpai.
Dia adalah orang yang Jun-san memintaku untuk mengawasinya.
“Selamat Pagi Senpai,”
Aku terdiam. Misaki memberi ucapan selamat pagi padanya dengan nada yang biasa dia gunakan
untuk menyapaku terdengar sangat cerita. Sedangkan saat menyapaku, Suaranya sangat kecil dan
terkesan sangat datar bahkan aku tidak sempat melihat wajahnya. Jadi, Mereka sudah berpacaran?
Apa yang sebenarnya terjadi?
+++Rikuto;s POV end+++
----
“Aku sudah mendapat salah satu orang yang paling berkemungkinan penting bagi Orang itu,”
Gumam Seseorang dari atap Sebuah bangunan. Dengan beberapa orang di sebelahnya yang
memakai teropong untuk melihat ke arah gerbang Akademi Akisu
“Kenji, Jangan asal mengambil keputusan. Awasi sampai hari kamis,” Ucap Takuya dari dalam telpon
“Baik. Takuya-sama,” Jawab Kenji penuh hormat dan melanjutkan kegiatannya untuk mengawasi
Rikuto.
Posting Komentar

Back to Top