“Aku tidak menerima kalau ibu harus di operasi!”
“Riki, Apa kau tidak ingin ibu sembuh?” tanya seorang lelaki dengan jaket tebal berwarna hitam
“Aku ingin, Sangat menginginkannya. Tapi, bukan melalui jalan Operasi!”Tegas Riki sambil
mengangkat suaranya.
“Lalu, dengan cara apa yang membuatnya bisa sembuh?”
“Jalani pengobatan seperti biasanya dan tunggu. Aku sama sekali tidak bisa mempercayai seorang
dokter yang baru datang dan melihat kondisi seseorang lalu langsung menyarankannya untuk
operasi,”
“Memangnya kau tahu apa!? Ini bukan urusan anak kecil sepertimu. Lagi pula, jika menjalani
pengobatan dan menunggu, Itu akan menghabiskan banyak uang, Kau pikir siapa yang membiayai
setiap pengobatannya?!”
“Kau kan hanya bisa menikmati uang yang sudah di cari dengan susuah payah oleh ayah. Kau
harusnya tidak banyak bicara,” Tambah sang kakak perempuan, Nita
“Kak nita juga? Apa kepala kalian hanya di isi dengan uang?! Apa kalian tidak bisa melihat betapa
semangatnya dokter sialan itu ketika membicaran soal uang?! Apa kalian tidak menyadari betapa
semangatnya dia menantikan Operasi yang harusnya seorang dokter itu gugup saat akan melakukan
operasi?!”
“Aku tahu kalian tidak menyadarinya. Karena isi kepala kalian sekarang bukan otak lagi kan?!” Lanjut Riki
“Apa yang kau bilang hah!?” sang kakak laki laki, Raka membentak adiknya yang menyinggungnya.
Pertengkaran anggota keluarga ini terjadi didepan pasangan mereka masing masing yang hanya bisa
diam melihat pertengkaran yang terjadi di depan mereka. Terlebih, ini adalah saat pertama kali Riki
marah besar di hadapan kakaknya
“Cobalah berfikir menggunakan otak kalian yang kecil. Uang operasi itu lebih besar dari uang rumah
sakit yang masih di tanggung 30 persen oleh Asuransi milik ayah. Apa yang kalian pikirkan hanyalah
berapa waktu yang harus di tunggu hingga ibu sembuh di kalikan dengan uang rumah sakit per hari
kan?! Yang bodoh itu kalian karena beranggapan bahwa ibu butuh waktu lama untuk sembuh. Dari
awal kalian lah__”
*Plakk
“Cukup!! Jangan buat aku marah juga!!”
Riki terdiam memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan dari Nita yang selama ini selalu
dekat dengannya. Bahkan mungkin menjadi orang yang selalu mendengar cerita Riki dengan senang.
“Aku sudah muak melihat orang yang berfikir menggunakan uang. Dan aku juga menyadari bahwa
menjadi orang dewasa berbanding lurus dengan menjadi bodoh. Saranku, Gunakan otak kalian untuk
berfikir. Jangan menjadikannya sebagai pajangan di dalam kepala kalian itu! aku keluar!”
Riki keluar dengan membanting pintu ruang tunggu dan berlari ke arah manamun. Tanpa arah,
Sudah terlambat untuk menghentikan operasi karena kabar itu baru sampai beberapa waktu lalu
dan saat ini sudah tinggal 30 menit lagi hingga operasi di mulai. Riki terus berlari ke luar dan
melangkahkan kakinya di taman rumah sakit yang di buat memang untuk pengunjung menunggu
datangnya jam jenguk.
“Sialan, Sialan, Sialan!!” gumam Rikuto sambil menjatuhkan tubuhnya di rerumputan taman dan
berbaring di bawah pohon walau hari sedang senja kala itu. Di bawah pohon yang sejuk itu, Riki
terus merenung memikirkan betapa sulitnya berbicara pada kakaknya yang sudah ‘dewasa’ itu. dan
terus melamun dalam pikirannya, mencemaskan apa yang akan terjadi dalam operasi dengan dokter
yang langsung bersemangat ketika membicarakan biaya operasinya.
“Hey. Wajahmu terlihat putus asa,”
Mendengar suara lelaki di dekatnya. Riki membuka matanya dan melihat ke sekelilingnya. Pemuda
yang sepertinya mahasiswa dengan menggunakan kalung berwarna hitam dan terlihat cukup
berwibawa itu duduk di sampingnya.
“Kau siapa?” tanya Riki
“Kau tidak perlu tahu namaku, Jika kau putus asa, sebelum bunuh diri. Datang dan ceritakan atau
mintalah bantuan pada kami. Walaupun itu untuk menghapuskan orang dari muka bumi ini. tapi, itu
harus dengan alasan yang bisa kami terima dan bukan sebagai tindak kejahatan yang bukan untuk
membalas kejahatan,” Mahasiswa itu memberikan slembar kartu bertuliskan’Kelinci Sawah’ dan
beberapa informasi seperti lokasi serta alamat yang bisa di hubungi,
“saat ini juga aku memiliki permintaan,”
“Apa itu?”
“Aku butuh informasi,”
“Mengenai?”
Tak lama, Seorang dokter lewat di depan mereka dengan semangat yang super tinggi bersama
asistennya yang membawa peralatan untuk operasi.
“Akan ada operasi ya?” gumam Mahasiswa itu
“Orang itu,”
“Siapa?”
“Dokter itu akan melakukan operasi terhadap ibuku, Aku ingin kau mencari informasi apapun
tentangnya. Jika bisa, aku butuh rekam jejaknya di dunia kedokteran,”
“Baiklah, Aku bisa mengusahakannya,”
“Aku hanya memegang uang 50 ribu rupiah, Jika kurang. Mau kah kau menunggu beberapa lama?”
tanya Riki sambil menyerahkan uang yang dia pegang.
“Baiklah, aku akan menginformasikan padamu secepatnya,”
Mahasiswa itu pergi dengan membawa uang dan Email Riki. Setelah beberapa jam, Ponsel Riki
berdering.
“Cepat juga jaringan informasinya,”Gumam Riki sambil membuka pesan itu dan membaca identitas
sang dokter dengan detil. Ternyata, informasi yang di berikannya tidak sepenuhnya valid karena data
yang di berikan oleh setiap Rumah sakit tentangnya cenderung berbeda dan pengirim mengirim
pesan lanjutan.
‘Berhati hatilah, Rekam jejaknya buruk. Dari 10 operasi dia menggagalkan 6 yang membayarnya
cenderung rendah. Tapi, dari 6 itu 2 orang membayar cukup besar untuk operasi. Dan dia adalah orang yang mudah panik, Yang di nilai baik darinya adalah senioritas dan pengetahuanya yang besar,’
Riki terdiam. Sudah sangat terlambat untuk menghentikannya. Saat ini dia hanya berharap untuk
kesembuhan ibunya saja. Ternyata benar, setelah operasi, kondisi ibunya tidak juga membaik.
Malah, bisa di bilang semakin memburuk hingga akhirnya tepat 2 minggu setelah operasi. Ibunya
menghembuskan nafas terakhirnya di rumah.
-----
“Aku menyesal tidak membunuhnya saat itu, Walau dia sudah berada di genggamanku,”
“Kuroyama-kun?”
Rikuto membuka matanya perlahan. Dan melihat ke sekitar, Dia bangun di atas sebuah kasur empuk
dengan rasa dingin di dahinya. Dan perasaan berat untuk bergerak. Setelah memikirkan tempat yang
paling memungkinkan dia menyadari bahwa dirinya sedang berada di UKS sekolah, di hari yang
sudah cukup malam.
“Apa yang terjadi?” tanya Rikuto pada Misaki yang ada di sampingnya
“Maafkan Aku!” Bukan menjawab, Misaki malah menunduk meminta maaf pada Rikuto
“Aku bertanya apa yang terjadi bukan menyalahkanmu,”
“Karena aku mengobrol terlalu lama dengan nana, Kau sampai pingsan di atap dan tidak bangun
walau sudah ku bangunkan,”
“Jadi begitu, Aku memang sudah pusing sejak tadi pagi. Tapi, aku tetap pergi ke sekolah untuk
mengetahui hasil ujian Akhir ini. Terima Kasih ya,”
Misaki terdiam dan tersipu mendengar Rikuto berterima kasih padanya.
“Apa yang kau gumamkan saat tidur?” tanya Misaki
“Bukan apa apa, hanya mimpi buruk saja,” Jawab Rikuto sambil merapihkan kompres yang ada di
dahinya.
“Aku harus pulang,”
“Istirahatlah dulu__”
Saat Misaki hendak menahan tubuh Rikuto yang akan bangun. Mata mereka bertemu, tepatnya saat
Rikuto setengah bangun dan Misaki yang belum mendorong Rikuto untuk kembali beristirahat. Keheningan terjadi dalam UKS yang tidak ada siapapun kecuali mereka berdua. Yang di
lakukan oleh orang yang ada di dalamnya hanya saling memandang tanpa ada yang bicara.
“Ano.. Maaf,” Misaki yang menyadarinya terlebih dulu karena Rikuto mendadak mendekatkan
wajahnya menjauh dan menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu. Rikuto yang
menyadari apa yang sendang di lakukannya juga membuang wajahnya ke arah lain.
“Aku pulang, Kau tidak ikut?” tanya Rikuto memecahkan keheningan yang terjadi lagi. Tanpa
menjawab, Misaki juga merapihkan seragamnya dan pergi meninggalkan sekolah dengan Rikuto.
Saat ini waktu menunjukkan pukul 7 tepat. Cukup malam untuk jam pulang sekolah. terlebih hari ini
adalah hari terakhir sekolah sebelum liburan musim panas yang panjang.
“Masih adakah yang kau inginkan?” tanya Rikuto di perjalanan
“Maksudmu?” Misaki balik bertanya
“Aku menganggap mencertiakan tentang dirku adalah kewajibanku atas anak dari Jun-san jadi itu ku
anggap setengah. Jika masih ada yang kau inginkan, katakanlah,”
Misaki menghentikan langkahnya. Tidak menyangka Rikuto akan memberikannya kesempatan untuk
menjawab permintaannya.
“Kalau begitu. Aku ingin berteman denganmu dan ingin tahu apa yang kau suka dan benci agar aku
tidak berbuat kesalahan,”
“Kau yakin ingin berteman denganku? Aku itu bukan tipe teman yang menyenangkan lho. Aku tidak
mempercayai siapapun di dunia ini dan selalu bersiaga,” tanya Rikuto tanpa menghentikan
langkahnya
“Tidak masalah, Aku ingin berteman denganmu. Aku tahu kau juga tidak akan mempermasalahkan
tentang ibuku untuk menjadi temanku. Jadi, beri tahukan padaku apa yang kau suka dan kau benci,”
“hanya beberapa ya,”
Rikuto menghentikan langkahnya dan menghadap ke arah Misaki. Setelah mendapat anggukan dari
Misaki, Rikuto mulai menyebutkannya
“hal yang ku sukai adalah. Ketenangan, Orang tidak banya bicara, Makanan yang asin,”
“Yang ku benci adalah. Orang yang banyak bicara dan berisik. Orang yang tidak konsisten, Orang
yang menggangguku dengan cara apapun,” lanjut Rikuto
“Apa aku termasuk yang kau benci? Aku kan berisik dan suka mengganggu ketenanganmu dengan
pertanyaanku,” tanya Misaki
“Memang benar. Kau itu sangat berisik jika sudah bertanya satu hal padaku, dan tidak akan diam jika
tidak ku jawab,”
“Kejam sekali,”
“Tapi,”
“Entah kenapa aku tidak bisa membencimu,” Tambah Rikuto sambil memegang pundak Misaki.
Dalam hitungan detik, setelah mencerna omongan Rikuto, wajah Misaki memerah dan melepaskan
tangan Rikuto dari pundaknya untuk menutupi wajahnya.
“Apa kau tetap ingin menjadi temanku?” tanya Rikuto sambil memandang ke arah lain
“Ya, Aku ingin menjadi seorang teman yang menerima kelemahanmu sepertimu yang tidak ambil
pusing atas kekuranganku,” Jawab Misaki dengan cepat.
“Aku bukan tidak ambil pusing. Tapi, Aku memang tidak peduli,”
“Dasar kejam,”
“Misaki,”
“Apa?”
“Kau kan anak dari Jun-san. Memanggilku Kuroyama pasti akan membuatmu risih kan? Karna
awalnya nama itu adalah namamu,”
Misaki mengagguk dan meletakkan tangannya di dagunya. Seolah berfikir panggilan apa yang tepat
untuk di lontarkan pada Rikuto, Walaupun dia sudah tahu akan memanggilnya dengan apa
“Lalu, Bagaimana dengan Riku?” tanya Misaki
“Jika kau memanggilku seperti itu, kau tidak ada bedanya dengan Takaki dan lainnya. Kan? Tapi, itu
bukan masalah juga sih,”
“Aku tidak ingin di samakan dengan Takaki-kun. Aku akan memanggilmu Ri-kun,”
“hah?”
Rikuto terdiam. Panggilan itu terdengar sangat aneh di telinganya. Tapi, itu juga terdengar begitu
lembut untuk di dengar. Misaki yang menunggu jawaban dari Rikuto juga tidak mengatakan apapun.
Keheningan terjadi lagi di antara mereka berdua.
+++Rikuto’s POV+++
Ri-kun. Panggilan itu terdengar aneh. Tapi, di sisi lain aku merasa kelembutan dari Misaki yang
menyebut begitu. Tanpa ku sadari, Aku terdiam dengan wajahku yang memerah. Aku yakin itu
terlihat jelas oleh Misaki,
“Terserah saja,”
Aku segera memalingkan wajahku dan menutupinya dengan tanganku. Aku tidak boleh jatuh, Aku
sudah berkeinginan untuk tidak memikirkan cinta lagi.
“Kau kenapa?” tanya Misaki
“Aku pulang duluan. Selamat malam,”
Aku menghindari pembicaraan terlalu lama. Aku takut aku akan memiliki sedikit perasaan
terhadapnya. Aku tidak ingin merasa cemas dan tidak tenang karena memikirkan orang. Aku ingin
hidup tenang dan hanya untuk diriku sendiri.
Karena sudah berjalan cukup jauh saat bersama Misaki tadi, Aku sudah tidak perlu berjalan lama
untuk sampai kedalam Rumahku.
“Aku pulang,”
Aku meletakkan tasku dan seragamku di sembarang tempat dan langsung menjatuhkan diri di atas
tempat tidur. Pikiranku kacau, Di tambah kedaanku yang kurang sehat ini. Apa yang sebenarnya
terjadi padaku? Aku menceritakan tentang diriku. Tapi, aku sama sekali tidak merasa adanya rasa
menyesal dari menceritakannya. Di tengah lamunanku, Ponselku berdering.
‘Rikuto, Besok kau senggang, Aku akan berkunjung untuk melakukan sebuah pekerjaan,’
Aku mematikan kembali layar ponselku, Walau aku sudah lebih lama bersama Akari. Tapi, aku sama
sekali tidak merasakan ada yang aneh dengan diriku. Entah kenapa, aku harus terpaku saat
pandanganku dan Misaki bertemu, kenapa aku harus menatap matanya saat berjalan? Kenapa aku
merasa Misaki sekarang terlihat cukup.... Manis?
----
Kehidupan dalam Libur musim panasku di mulai hari ini. 4 hari kedepan adalah hari di mana aku
mengorbankan tenanga yang ku simpan selama ini. Turnamen yang di langsungkan di sekolah yang
terbilang cukup jauh dari rumahku.
Seperti biasa, Aku bangun sebelum jam 6 dan sudah bisa ber aktifitas jam setengah tujuh. Meski
begitu, aku tidak punya jadwal pasti untuk beberapa hari ke depan kecuali untuk melakukan
pekerjaan dari Jun-san bersama Akari.
Aku harap dengan melakukan pekerjaan dari kuroyama group dapat membuatku melupakan apa
yang ku pikirkan semalam. Kenapa aku bisa melemah hanya karena dia menungguku saat aku sedang
tidak sadarkan diri di UKS? Apa aku terlalu bodoh?
“Jun-san, Apa yang perlu aku lakukan terhadap Misaki dan ibunya?”
Untuk meyakinkan tujuanku, Aku menelpon Jun-san untuk mempertegas
“Kau cukup yakinkan Misaki saja. Masalah istriku, Aku bisa mengurusnya sendiri,”
“oh ya, Berapa lama sekretarismu itu tidak bisa bekerja?”
“Dia sudah bekerja sejak awal musim panas. Kau sekarang sebagai pekerja dari kuroyama group”
“hah? Kalau begitu, aku keluar,”
Sialan, Aku merasa di tipu olehnya. Kupikir aku hanya harus menggantikan sekretarisnya. Licik sekali dia itu.
“Jangan, apa kau ingin di hantui oleh perasaan suka terhadap anakku?”
“Siapa yang suka dengannya!? Jangan permainkan aku!” Aku mengangkat suaraku, Entah karena apa
aku jadi begitu sensitif hari ini
“Kenapa kau marah? Jangan jangan__”
“Arrghh. Oke, Aku akan melanjutkan bagianku di Kuroyama Group,”
“Bagus,”
Sialan! Dia benar benar licik, Tapi, Aku juga tidak bisa menyalahkannya, karena aku juga termasuk
orang yang licik. Setelah lelah mendengar orang itu bicara. Aku menutup telponnya dan kembali
membuka lembaran buku.
‘Hoy jawab aku Rikuto’
Aku mendapat pesan lagi dari Akari. Sepertinya akan melelahkan jika aku tidak membalasnya dan itu
hanya akan membuatnya terus mengulangi pertanyaannya.
‘Berisik. Aku bisa mengerjakannya sendiri,’
Jika ada cara untuk bisa mengerjakan sendiri sendiri. Kenapa harus di kerjakan berdua? Aku tidak
suka membuang waktu untuk menunggu Akari menulis bagiannya. Bagiku, aku tidak bisa membuang
waktuku walau sedetik dalam pekerjaanku. Karena setiap waktu yang terbuang dalam pekerjaan
akan mengubah seluruh jadwal kegiatanku seharian penuh.
+++Rikuto’s POV end+++
“Tinggal 4 hari menuju turnamen,” gumam seseorang berambut pirang
“Bos, apa kau akan menghajar anak itu sampa mati?” tanya salah satu orang di dekatnya
“Aku akan menaati peraturan turnamen. Jika dia layak, Aku akan mengincarnya sampai membuatnya
seperti ini,”
*Bugg
Orang itu memukuli orang di dekatnya dengan tongkat miliknya. Hingga tongkat putinhnya berubah
menjadi warna merah darah.
“Aku menantikan pertarungan ini. Kuroyama Rikuto, Atau bisa di sebut No.4,” ujar orang itu di ikuti
tawa lepasnya. Di sekitarnya, anak anak buahnya terlihat lemas dan babak belur di pukuli oleh
tongkat baseball, Sarung pedang, dan benda lain yang ada di gudang itu,
“Aku akan menghapus legenda no.4 dan membuat debut diriku yang di takuti di seluruh jepang!”