“Nama Saya Kuroyama Rikuto, Salam kenal!” Seru seseorang di depan kelas. Di pertengahan musim
semi kota tokyo, murid yang ber perawakan bukan seperti orang jepang pada umumnya
memperkenalkan dirinya di depan kelas.
“baik, Kuroyama –san, Silahkan duduk di tempat yang kau suka” kata guru yang sedang mengajar di
kelas tersebut. Suasana kelas sedang sedikit ramai, Beberapa siswa terus memandangi Rikuto yang
berjalan ke arah tempat duduk kosong paling belakang dengan tatapan penasaran. Tapi, Rikuto tidak
memperdulikan tatapan mereka dan duduk di bangku paling belakang
“Anak Anak!, Kita mulai pelajarannya!” Seru guru yang masih mengajar di jam pertama senin pagi
ini. Suasana kelas kembali sepi, Rikuto segera mengambil buku catatan yang ada di tas nya dan mulai
mencatat pelajaran yang di jelaskan.
“Kuroyama –san?” Panggil seseorang dari sebelah Rikuto
“ada apa?” Tanya Rikuto sopan
“Namaku Takajiro Takaki. Ketua kelas di sini, jika ada hal yang membingungkan mu kau bisa bertanya
padaku”
“Senang bertemu denganmu, Takajiro-san.”
Rikuto kembali melanjutkan menulis pelajaran yang ada di papan tulis. Namun, cara Rikuto menulis
menarik perhatian dari siswa lain yang memang dari tadi tidak bisa konsentrasi karena penasaran
pada murid baru yang tidak terlihat seperti penduduk lokal. Tak lama, Bel pelajaran pun berbunyi
tanda pelajaran sudah ber akhir
“Kuroyama-san!” Panggil guru yang tadi menjelaskan
“ada apa sensei?” Tanya Rikuto tanpa menghentikan tangannya yang sedang menulis
“setelah seluruh jam pelajaran telah usai, Temui aku di ruang guru” Guru tadi langsung
meninggalkan seluruh siswa di kelas dan pergi ke ruang guru.
++Rikuto’s POV++
Tak lama setelah guru itu pergi. Aku merasa hawa penasaran yang tidak menyenangkan dari
beberapa siswa. Bahkan ada yang mulai berjalan ke arah tempat dudukku
“Kuroyama-san!” Panggil seseorang dari belakangku. tak lama, Hampir seluruh siswa di kelas
berjalan ke arahku dan berdiri mengelilingiku
“Bisa ku dengar tentang dirimu?” Tanya seorang siswi yang berada di sebelah kiriku.
“Aku hanya siswa pertukaran pelajar biasa, Aku Tidak punya latar belakang khusus” Jawabku
sesingkat yang ku bisa.
“uh!. Dinginnya!” Seru beberapa siswi yang berwajah penasaran padaku. Jika aku bisa jujur, aku
ingin meminta mereka untuk pergi. Aku tidak suka jadi pusat perhatian siapapun.
“hoy, Kalian, Kuroyama-san mungkin sedang lelah biarkan dia menghela nafas segar terlebih
dahulu!” Seru seseorang tidak terlihat kemunculannya olehku
“Baik, Takajiro-kun” para siswa langsung meninggalkanku dan kembali ke tempat duduk mereka.
“seperti yang ku duga dari ketua kelas. Terimakasih Takajiro-san” Kataku saat dia sudah duduk di
tempat duduknya
“Tidak juga, hahaha”
Tak lama, Seorang guru laki laki masuk ke kelas dan memerintahkan seluruh siswa untuk tenang. Dan
dia mulai menjelaskan pelajarannya.
“Kuroyama-san, Ku pinjamkan catatanku. Kau bisa menyalin kapanpun kau mau” Takajiro
memberiku beberapa buku yang dia puya.
“baiklah, Terima kasih”
“tidak usah terlalu sopan” kata Takajiro santai
Aku memandang seluruh kelas dan beberapa siswa. Membiasakan pandangan mata pada isi kelas
ini. Aku yang tidak mengerti kenapa aku bisa di kirim ke sini karena alasan pertukaran pelajar. Mungkin jika aku akan di pindah atau di pulangkan ke negara asalku, aku akan dengan senang hati
menerimanya, karena aku juga tidak menginginkan berada di sini.
++Rikuto’s POV end++
Istirahat makan siang telah tiba, Beberapa siswa meninggalkan kelas untuk membeli makanan atau
memakan bekal di tempat lain. Tidak ada orang lain yang ada di kelas kecuali Rikuto dan seorang
Gadis yang duduk di sisi berlawanan dengan rikuto.
“ano..” Kata Rikuto pelan
“ada apa?” tanya gadis itu
“atap.. ano..”
“atap?” tanya Gadis itu heran
“Sialan,Aku masih bingung menggunakan bahasa jepang” Batin Rikuto tanpa merubah ekspresinya.
Gadis itu hanya menatap heran pada Rikuto
“apa akses ke atap di larang bagi siswa?” Tanya Rikuto
“Tidak juga” Jawabnya
“Terima kasih” Rikuto meninggalkan gadis itu dan berjalan ke arah atap dari kelas 1-5. Karena terlalu
lambat mengurus surat identitas dan paspor, Rikuto baru bisa di pindahkan 1 bulan setelah awal
tahun ajaran. Dengan pakaian yang berbeda dari siswa biasa dan menggunakan sepatu dalam
ruangan milik tamu sekolah, Rikuto cukup menarik perhatian beberapa siswa yang sedang ada di
depan kelas mereka.
“Lagi lagi aku jadi bahan perhatian mereka, Tapi, biarlah.” Gumam Rikuto tenang dan melanjutkan
perjalanannya ke atap sekolah.
..
Sore Hari, langit senja menerangi kota tokyo. Jam pelajaran telah berakhir, beberapa siswa sudah
pulang atau pergi untuk kegiatan klub. Meski begitu, ada 2 orang yang masih berada di kelas untuk
melanjutkan apa yang sedang mereka kerjakan.
“catatan ini tidak terlalu tebal, Tapi aku belum biasa menulis dengan tulisan seperti ini” Gumam
Rikuto sambil membolak balikan buku yang di pinjamkan oleh Takaki. Dan melanjutkan menulis
catatan hingga seseorang menghampirinya
“Kuroyama-san?” Panggil orang itu yang ternyata adalah gadis yang duduk di sisi paling depan
“Ada apa?” Tanya Rikuto
“ku pikir tadi sensei memintamu datang ke ruangannya”
“oh, Aku melupakannya”
Rikuto berdiri dan merapihkan buku yang dipinjamkan dan memasukkannya ke dalam tas nya.
“Terima kasih.. Ano..”
“Misaki” Kata Gadis itu memperkenalkan diri
“apa tidak masalah di panggil dengan nama depan?” tanya Rikuto
“tidak masalah, Aku kurang suka di panggil dengan nama keluarga” Jawab Misaki
“baiklah, Aku akan ke ruang guru sekarang. Terima kasih telah mengingatkanku Misaki-san”
“Tunggu. Aku juga akan ke ruang guru” Kata Misaki sambil membawa tugasnya
“Baiklah, Kita ke sana bersama”
Misaki mengangguk dan membiarkan Rikuto jalan di depannya. Mereka berjalan ke arah ruang guru
dengan tenang karena hari yang sudah mulai gelap. Awan pun mulai mengumpul menutupi cahaya
matahari yang hampir terbenam. Dan bintangpun mulai bermunculan di langit yang semakin gelap.
Di perjalanan dari kelas ke ruang guru, Tidak ada di antara mereka yang memulai pembicaraan Baik
Rikuto maupun Misaki, mereka terdiam hingga akhirnya mereka sampai di ruang guru
“Permisi” Kata Misaki dengan sopan sambil masuk ke ruang guru
“Sino sensei, Aku akan mengumpulkan ini” Kata Misaki sambil memberikan beberapa lembar kertas
pada Sino sensei.
“Baiklah, Kuroyama-kun juga ada di sini ya?” Tanya Sino sensei
“Aku di sini” Rikuto berjalan dari luar ruangan. “Jika kau tidak datang juga, Tadinya aku akan menghampirimu ke kelas dan kau akan menerima konsekuensinya” Gumam Sino sensei
“Maaf” Kata Rikuto singkat sambil membungkuk
“ada beberapa hal yang ingin aku konfirmasikan padamu.Sebelumnya, Angkat kepalamu” Kata Sino
sensei, Rikuto kembali berdiri tegap
“Kuroyama Rikuto. Kau adalah salah satu dari 3 siswa yang di kirim dari luar negeri. Tepatnya
Indonesia ke sini?” Tanya Sino sensei di sertai dengan tatapan terkejut dari Misaki
“benar” Jawab Rikuto.
“Kau lahir di Jakarta, 26 Desember. Golongan Darah O.”
“benar. Maaf, Sensei jika kau ingin membahas lebih lanjut tentang ini. Aku akan menjawabnya saat
aku sedang melakukan konseling” Kata Rikuto tenang. Meski begitu, Misaki mengetahui ada rasa
tidak nyaman dalam diri Rikuto saat identitasnya Di bacakan
“Baiklah, Sekarang aku akan memberi tahukan tentang sekolah ini. di sekolah ini. Sistemnya berbeda
dengan sekolah lain, para murid akan di berikan 1 pekan untuk materi dan 1 pekan khusus untuk
mengerjakan latihan dari pelajaran sebelumnya. Ada sekitar 14 klub di sekolah ini. Dan juga, yang
mungkin sudah kau ketahui. Tas seperti ini tidak di perbolehkan di gunakan untuk sekolah” jelas Sino
sensei sambil menunjuk tas ransel Rikuto
“mulai besok, kau gunakan tas ini. Dan juga loker mu nomer 135, Dan juga, Ini seragammu dan
sepatu indoormu. Sisanya Tanyakan pada Misaki” Kata Koharu sambil Memakai Mantelnya dan
meninggalkan Rikuto dan Misaki di ruang guru
“aku akan pulang” Kata Rikuto sambil menggunakan Blazer dari seragam musim semi
“apa kau tidak punya mantel?” tanya Misaki
“Tidak” Jawab Rikuto sambil menutup pintu ruang guru
“Pakai ini saja” Misaki memberikan mantel yang di pegang di tangan kanannya
“ini saja cukup. Lagipula, jika aku menggunakan itu kau akan kedinginan” Kata Rikuto sambil
memasukan beberapa barang yang di berikan tadi
“Tidak masalah, rumahku dekat”
“Rumahku juga dekat” Kata Rikuto sambil mengambil sepatunya di rak sepatu pengunjung.
“Apa Sepatu mu tidak terlalu tipis?” Gumam Misaki mengomentari sepatu Rikuto yang berbahan
Kain
“Ku pikir tidak masalah.”Balas Rikuto
“Akan Jebol di musim dingin”
“Benar juga ya?”
Rikuto menggunakan sepatunya dengan cepat dan berjalan untuk pulang ke rumahnya.Tetapi,
Misaki ternyata masih berjalan di belakangnya.
“apa rumahmu ke arah sini?” Tanya Rikuto sambil menghentikan langkah kakinya
“Kau juga kesini?” Misaki balik bertanya
“begitulah” Jawab Rikuto sambil melangkah kembali di ikuti oleh Misaki yang berjalan di sebelahnya
“apa tidak dingin?” tanya Misaki memcah keheningan
“Dingin, tapi tidak masalah” Jawab Rikuto tanpa menoleh. Angin Malam ini bertiup cukup kuat.
Membuat beberapa bagian dari rambut Rikuto berterbangan terkena angin.
“Bintang di sini cukup bagus ya?” Gumam Rikuto sambil menatap Butiran bintang yang ada di langit.
Lebih bersinar dari di negaranya.
“aku akan ke supermarket. Jadi aku akan lewat sini” Kata Misaki saat sudah sampai di persimpangan
di dekat rumah Rikuto
“Kalau begitu, Aku lewat sini” Balas Rikuto sambil mengambil jalan yang berlawanan dengan Misaki
“sampai ketemu Kuroyama-san!” Kata Misaki dengan semangat. Rikuto mengangguk dan mengambil
Jalan yang berbeda dengan Misaki
..
Berselang beberapa jam dari perjalanan pulang tadi, Rikuto berjalan di taman sekitar kota tokyo
dengan jaket tipisnya sembari menatap langit malam yang berkilauan bintang bintang “Hari ini sangat cerah” Gumam Rikuto pelan sambil terus berjalan tanpa arah yang jelas.
“Tetapi, Apa benar aku bisa menemukan hal yang akan menarik di sini?” Tanyanya pada dirinya
sendiri tanpa menghentikan langkah kakinya. Hingga karena tidak fokus berjalan dia menabrak
seseorang hingga orang itu terjatuh
“ah... Maafkan aku..” Kata Rikuto spontan sambil mengulurkan tangan pada orang yang ia tabrak
“Tidak Masa..”
“Kuroyama-san?!!”
Yang di tabrak Rikuto adalah seorang gadis dengan mantel cukup tebal dengan rambut yang cukup
panjang. Sekilas wajah itu mengingatkan Rikuto pada seseorang yang baru dia kenal. Namun, setelah
mendengar suaranya, Rikuto menjadi sangat yakin bahwa dia mengenalnya
“suara itu.. Misaki-san?!” Tanya Rikuto dengan nada terkejut tapi tidak membuat Rikuto
meninggikan suaranya.
“apa aku tidak di kenali?” Tanya Misaki saat sudah berdiri sambil melemparkan senyuman pada
Rikuto
“Kau tidak mengikat rambutmu, Jadi aku sedikit terkecoh” Jawab Rikuto
“apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Misaki sambil mengambil beberapa barang bawaan yang
berjatuhan
“Aku hanya ingin berjalan jalan untuk menenangkan pikiranku” Jawab Rikuto
“Biar ku bantu” Lanjut Rikuto sambil jongkok dan membantu Misaki mengambil barang bawaanya
yang berserakan
“Sepertinya Kau memang belum lama sampai di rumah” Ucap Misaki di sela sela kegiatan memungut
bawaannya
“Kenapa kau tahu?” Tanya Rikuto
“Kau tidak mengganti Baju mu dan hanya menambahkan Jaket tipis. Tapi kau sudah tidak
mengenakan tas mu, berarti kau sudah sempat sampai di rumah” Jawab Misaki sambil berdiri
“Kau benar.” Balas Rikuto karna ia merasa tidak ada yang perlu di sangkal dan Kembali Berjalan
“Apa kau tidak kedinginan?” Tanya Misaki sambil berjalan di samping Rikuto
“Mungkin Aku akan membeli syal yang Sedikit murah” Jawab Rikuto tanpa menoleh
“Kenapa membeli yang murah? Harga syal tidak terlalu mahal?” Tanya Misaki dengan wajah heran
“Aku harus menjaga uangku hingga bulan depan” Jawab Rikuto
“Kenapa kau tidak pinjam ke salah satu orang di keluarga__”
“keluarga?. Aku tidak pernah mengharapkan apapun dari mereka” Jawab Rikuto dengan cepat
“maaf, Apa aku membicarakan sesuatu yang salah?” Tanya Misaki
“Bukan apa apa” Rikuto berjalan sedikit lebih cepat. Pikirannya kacau, Memikirkan selintas beberapa
hal tentang keluarga yang di rengut darinya. Antara keberadaan dan Perasaan keluarga yang ter
rengut membuat Rikuto tidak bisa mengharapkan apapun dari keluarganya. Serta segelintir
kenangan menyakitkan yang sangat ingin dia lupakan
“Kuroyama-san..”
“Kuroyama-San!!!” Panggil Misaki mengagetkan Rikuto yang berjalan di tengah lamunannya.
“Kau melupakan tentang membeli syal” Kata Misaki saat sudah berada di samping Rikuto
“kalau begitu, Lebih baik aku segera pulang” Kata Rikuto sambil berjalan . Hingga di sebuah
persimpangan Rikuto dan Misaki mengambil Arah jalan yang sama
“Apa rumahmu lewat sini?” Tanya Misaki
“Hn” Jawab Rikuto singkat
“Sepertinya Kita memang Pulang ke arah yang sama.”
“Hn”
“oh ya. Kuroyama-san, Kau pindah ke sini saat sedang berada di pekan untuk latihan mengerjakan
soal”
“tapi, tadi seluruh siswa di berikan materi?” Tanya Rikuto
“karena sekolah selalu menghargai murid baru. Jadi Untuk hari ini sudah di alihkan ke Hari Jumat
kemarin” Jawab Misaki “jadi?”
“di Berikan 200 Soal latihan di setiap minggu, Jadi se hari kau harus mengerjakan 40 soal latihan di
setiap mata pelajaran dan juga untukmu. Besok harus mengumpulkan Minimal 60 soal untuk latihan
di hari jumat lalu. Dan juga, Jika kau sudah selesai sebelum bel ber bunyi, kau bisa menunggu jam
selesai di luar kelas.” Jelas Misaki
“Aku melupakan Bahan masakan!. Kalau begitu aku akan memutar. Sampai jumpa besok” Kata
Rikuto sambil berbalik tanpa menunggu jawaban Misaki